Pondasi Hidup Yang Tepat

15 Desember 2017 OK
Bagikan artikel ini

Beberapa waktu lalu, Saya dihubungi oleh Efrit, who runs the whole ScaleUp.id Company. Dia telepon untuk diskusi sampai akhirnya request Saya untuk share di FB satu dua hal pembelajaran Saya selama di Bali. But wait, jangankan di Bali, tanpa harus ke Bali saja Saya selalu belajar hal yang baru yang bisa Saya share.

Pondasi Hidup Yang Tepat

Papa mama Saya berasal dari keluarga yang kurang berada. Papa adalah karyawan di perusahaan Manajemen Konstruksi dan mama adalah seorang dosen. Mereka berdua mempunyai belief system bahwa jika ingin kaya harus bekerja dan harus mengikuti jalurnya, yaitu kuliah setelah itu kerja. Itu tidak salah, karena itu yang diyakini. Namun saya sangat beruntung karena semenjak kecil Saya di berikan hak untuk memilih, dari sekolah di mana, agama, dan lain-lain. Sampai akhirnya kuliah pun Saya memutuskan untuk berada agak jauh dari keluarga. Saya sangat bersyukur karena mungkin jika saya tidak tinggal jauh dari keluarga, Saya akan terbentuk pola pikir yang sama. Tapi apakah mereka salah? Tentu tidak.

Kita tidak boleh terpatok dengan pola pikir lama dan tidak melihat situasi dan kondisi yang berubah. Cara mencari uang dan informasi sudah berubah. Kita pun harus berubah. Sistem sekolah yang hanya mengajarkan hal-hal yang kurang esensial dan tidak begitu membantu padahal di kehidupan ini masih banyak hal yang lebih penting untuk di ajarkan seperti keuangan.

Sekolah itu mempunyai good marketing product. Mereka bisa membuat masyarakat mempunyai kepercayaan untuk menitipkan anak-anaknya ke mereka agar bisa menjadi seseorang yang sukses. Menurut Saya, this is just commercial bullshit. Industri pendidikan kita sudah tersistem untuk kepentingan pribadi bukan untuk perkembangan anak didiknya. So, miris sekali dengan sistem sekolah saat ini.

Kemarin pagi, kami sekeluarga melihat berita di televisi tentang kasus KDRT, papa saya berkata bahwa hal itu disebabkan oleh tidak kuatnya pondasi dalam pernikahan seperti pelajaran pra nikah. Namun menurut Saya hal itu lebih karena pondasi hidup yang belum kuat. Sejak kecil, tidak ada yang mengajari kita tentang kehidupan. Jika ada, Anda adalah orang yang beruntung.

Saya katakan ke papa Saya bahwa sekarang kita berada di era informasi yang sangat cepat. Kita menerima banyak informasi yang membuat fear kita muncul tanpa alasan. Seperti kasus KDRT itu, tidak ada pondasi hidup yang tepat dan bijak sehingga mereka menerima informasi sebagai kebenaran, ditambah pikiran-pikiran negatif, dan inilah yang membuat keributan itu terjadi.

Inilah yang Saya terapkan ke team Saya, sering mengingatkan hati-hati dengan informasi. Bergaulah dengan siapa kamu ingin menjadi. Jika ingin lebih mengembangkan perusahaan, carilah orang-orang sukses dibidang ini. Dengan begitu, pola pikir kita juga akan terbentuk dan menjadi suatu pegangan hidup.

Dreams Saya jika kelak Saya berkeluarga dan mempunyai anak adalah menjadi full time father yang menjadi pengajar pertama untuk anak Saya. Karena hal itu, Saya terus berusaha untuk bergaul dengan orang yang lebih produktif, lebih sukses, lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih bijak di bidang masing-masing. Terus belajar karena hidup selalu memberikan kita pelajaran baru dari alam kehidupan ini.

Terima kasih telah membaca artikel ini, jika Anda menyukainya,

Say Hello on: Instagram | Facebook

 

 


Bagikan artikel ini

 

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *