Mitos-Mitos di Dunia Bisnis Properti

Mitos-Mitos di Dunia Bisnis Properti
19 Desember 2017 OK
Bagikan artikel ini

Sebelum terjun ke dunia properti, banyak tidak sih diantara kalian yang mendengar hal-hal tentang properti, entah itu yang membuat kalian semakin semangat untuk terjun atau sebaliknya semakin down dan pesimis di properti?

Ada beberapa mitos mitos yang berpotensi menghambat Anda untuk berhasil dalam mendapatkan passive income dalam dunia property. Berikut beberapa di antaranya:

1. Harga properti selalu naik. Menjadi masalah jika punya keyakinan seperti itu. Coba saja Anda googling, banyak sekali kegagalan dalam bisnis properti. Salah satu indikatornya adalah demografis. Tidak sedikit jalanan yang gagal dibangun membuat properti di daerahnya menjadi mati karena tidak ada akses jalanan.

2. Investasi properti hanya untuk orang kaya. Orang kaya pun mulainya dengan tidak kaya. Bahkan mereka menjadikan investasi di properti itu sebagai leverage dalam membangun kekayaan. Tergantung mindset dan strategi kita, misalnya dengan memakai hutang atau uang orang lain, bekerjasama dengan penjual, dan lain-lain.

3. Investasi properti beresiko tinggi. Tinggi rendahnya resiko itu tergantung knowledge Anda dan know your language. Kita harus tahu bagaimana cara main yang benar agar tidak menjadi resiko negatif. Misalnya, kita memakai hutang untuk membeli properti, lalu hutang tersebut kita putar lagi dalam bisnis yang menghasilkan cashflow sehingga menjadi hutang baik.

4. Jual beli rumah merupakan cara investasi terbaik. Ini yang paling Saya temuin. Orang awam atau agen properti yang biasanya mempunyai mindset seperti itu. Kalau menurut Saya, itu namanya pedagang. Prinsip Saya 3:2:1, yaitu beli 3, keep 2, jual 1. Kenapa? karena sometimes siklusnya harga properti lebih bagus dari cashflownya, kalau sudah begitu kenapa tidak dijual.

5. Properti itu mahal. Padahal mahal itu relatif tergantung kantongnya. Jika membeli properti harga 2M, cashflownya 25juta perbulan dan dijual dengan harga 4M. apa itu mahal?

6. Beli properti harus punya informasi orang dalam. Memang lebih baik jika punya banyak relasi agar memudahkan, namun tidak jadi alasan kita tidak bisa membelinya. Yang terpenting kita selalu berusaha dan cari cara dan itu semua ada prosesnya.

Itu semua adalah mitos yang dibuat orang-orang yang tidak mengerti cara bermain atau pernah gagal dalam properti. Kalau ingin berhasil, ubah dulu mindset negatif tentang properti. Hal itu sangat menghambat proses kita. Mengapa? Karena informasi-informasi yang terlalu banyak itu dapat membuat mental block Anda terbentuk sehingga rencana Anda untuk take action bisa tertunda dan Anda pun tidak bisa mencapai yang Anda inginkan.

Boleh saja jika Anda mengetahui hal-hal tersebut, tapi bagaimana Anda memaknainya? Itulah yang akan menjadi berbeda, karena jika Anda dapat memaknai mitos-mitos tersebut secara positif dan membuat Anda semakin termotivasi untuk berinvestasi di properti, itu akan menjadi baik untuk Anda dan masa depan.

Intinya adalah, segala hal yang ingin Anda lakukan, percayalah pada diri sendiri bukan kepada orang lain. Belajar dari mereka yang sudah ahli dibidangnya dan pelajari juga pola kesuksesan mereka. Bagaimana pengalaman mereka dari jatuh hingga bangun terutama dalam dunia properti, belajar dari pengalaman diri sendiri jika Anda sudah pernah melakukannya. Karena yang dapat menentukan kesuksesan sesorang adalah diri mereka sendiri.


Bagikan artikel ini

 

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Posts

2 thoughts on “Mitos-Mitos di Dunia Bisnis Properti

  1. Saya menyimak poin pertama yang menyatakan bahwa ” harga properti selalu naik adalah mitos ” dan dijelaskan di poin pertama kegagalan bisnis properti karena faktor demografis . Itu berarti harga properti di pegaruhi oleh faktor demografis. Bagaimana jika harga tanah naik tetapi akses jalan properti nya kurang baik ? Mohon dijelaskan. Hehe

    1. Terima kasih pertanyaannya pak/bu ….

      Kalau bicara soal harga tanah ini sebetulnya sangat banyak yang mempengaruhi, yang disebut faktor demografis adalah faktor makro saja. Kalau kita bisa lebih ke mikro salah satunya juga soal akses. Jelas antara akses mudah dan sulit harga pasti berbeda total, jadi perhatikan juga darimana asal muasal kita bisa bilang bahwa harga disana naik. Dibandingkan dengan harga dimana? dengan harga sekitarkah? apakah harga tersebut dengan kondisi akses yang sama, klo tidak saya rasa tanah tersebut belum tentu mengalami kenaikan harga.

      Dan komentar juga soal harga properti, trickynya adalah properti ini kalau dibilang naik harga buat saya itu belum berarti untung. Kenapa?
      Karena belum valid ada demandnya. artinya kalo di listing jual belum tentu ada yang langsung beli, jadi kenaikan baru berdasarkan penilaian satu dua atau tiga pihak lainnya atau lebih bukan berdasarkan realita harga yang bisa terjual.

      Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *